Sidoarjo – Desa Semampir, Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo, menggelar tradisi Sedekah Bumi sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah dan rezeki yang telah diberikan selama setahun terakhir. Tradisi ini juga menjadi sarana mempererat kebersamaan dan memupuk kepedulian masyarakat dalam menjaga keberlangsungan budaya lokal.
Kegiatan Sedekah Bumi yang digelar rutin setiap tahun ini selalu mendapatkan antusiasme tinggi dari masyarakat. Selain menumbuhkan nilai spiritual, Sedekah Bumi juga diyakini membawa keberkahan bagi seluruh warga serta menjaga keharmonisan antarwarga.
Rangkaian acara dimulai pada Kamis (20/11/2025) dengan agenda ziarah ke makam para leluhur sebagai bentuk penghormatan kepada pendahulu desa. Setelah itu, pada malam harinya dilaksanakan istighosah dan doa bersama di Balai Desa Semampir sebagai bentuk permohonan keselamatan serta perlindungan bagi seluruh masyarakat.
Keesokan harinya, Jumat (21/11/2025), kegiatan dilanjutkan dengan acara ruwat desa bertempat di Punden Desa atau makam sesepuh Mbah Siti Asmah atau yang dikenal dengan sebutan Mbok Rondo. Ruwat desa tersebut berlangsung khidmat melalui prosesi kenduri dan doa bersama yang diikuti seluruh lapisan masyarakat.

Puncak acara Sedekah Bumi digelar pada Jumat malam (21/11/2025) dengan pagelaran wayang kulit oleh dalang Ki Daniel dari Jemundo, Taman, Sidoarjo. Wayang kulit kali ini menampilkan lakon Adeg’e Negoro Botoreto yang sarat makna perjuangan dan keteladanan.
Dimulainya pagelaran wayang kulit ditandai dengan simbolis penyerahan Gunungan dari Ki Dalang Daniel kepada Kepala Desa Semampir H. Luqman Mualim, SH., sebagai tanda restu dan penghormatan terhadap kegiatan budaya desa. H. Luqman Mualim juga menerima cindera mata dari Ki Dalang berupa wayang Kunto Dewo.
Acara ini turut dihadiri oleh Camat Sedati Abu Dardak, Kapolsek Sedati, Danramil Sedati, kepala desa se-Kecamatan Sedati, BPD, LPMD, jajaran RT/RW Desa Semampir serta ratusan warga dan tamu undangan yang memenuhi area acara.
Kepala Desa Semampir, Luqman Mualim SH, menyampaikan bahwa tantangan di era modern saat ini adalah bagaimana mempertahankan serta melestarikan tradisi Sedekah Bumi agar tetap menjadi identitas budaya masyarakat. Perubahan zaman tidak boleh mengikis nilai kebersamaan dan warisan leluhur yang telah terbentuk selama ini.
“Kami harus memastikan nilai-nilai budaya yang telah diwariskan tetap relevan di tengah perkembangan zaman,” ujar Abah Luqman.
Lebih lanjut, pria yang akrab disapa Abah Luqman itu mengapresiasi kerja keras panitia, donatur, serta seluruh warga Desa Semampir yang telah berperan aktif dalam menyukseskan rangkaian kegiatan ruwat desa tahun ini.
“Harapan dari acara ini dapat menjadi ajang silaturahmi yang efektif, mempererat hubungan antarwarga, serta melestarikan budaya dan tradisi yang diwariskan para sesepuh Desa Semampir,” pungkasnya.
Sementara itu, Camat Sedati Abu Dardak turut memberikan apresiasi atas konsistensi Desa Semampir dalam menjaga tradisi budaya leluhur. Menurutnya, kegiatan semacam ini harus terus dijaga karena memiliki nilai moral dan sosial yang sangat penting.
“Saya berharap seluruh warga Desa Semampir selalu diberikan kesehatan, rezeki yang berkah, serta dijauhkan dari segala musibah dan bencana. Tradisi seperti ini harus dipertahankan sebagai perekat masyarakat,” ungkap Abu Dardak.
Dalam pagelaran wayang kulit, lakon Adeg’e Negoro Botoreto menceritakan perjuangan para kesatria dalam mendirikan negara baru berdasarkan keadilan dan kebenaran setelah mengalahkan kekuatan yang zalim. Cerita ini memberikan inspirasi tentang keberanian dan pengorbanan demi tegaknya keadilan.
Pesan moral yang disampaikan melalui lakon tersebut mengingatkan tentang pentingnya kepemimpinan bijaksana, keadilan sosial, serta tatanan masyarakat yang makmur dan damai, selaras dengan harapan warga Desa Semampir. (rif)












