Sidoarjo – Lonjakan angka kecelakaan lalu lintas di salah satu jalur yang dijuluki jalur tengkorak di wilayah Sidoarjo semakin memicu kekhawatiran publik. Dalam waktu satu tahun terakhir, peningkatan kasus kecelakaan di sejumlah titik blackspot mencapai level yang dianggap paling mengkhawatirkan sepanjang lima tahun terakhir. Kondisi ini menjadikan kawasan tersebut sebagai salah satu titik paling berbahaya dan rawan kecelakaan di Provinsi Jawa Timur (Jatim).
Data terbaru menunjukkan kenaikan hingga 1.400 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Tidak hanya bertambahnya jumlah insiden, tingkat fatalitas dan korban luka berat juga tercatat meningkat signifikan. Situasi ini menuntut perhatian serius dari seluruh pemangku kepentingan, terutama dalam upaya pengendalian dan penertiban pengguna jalan.
Kanit Kamsel Satlantas Polresta Sidoarjo, Iptu Kharisma Afriansyah menegaskan bahwa faktor terbesar penyebab kecelakaan masih didominasi oleh kelalaian pengendara. Menurutnya, pelanggaran aturan lalu lintas menjadi akar dari banyak insiden tragis yang terjadi.
“Mayoritas kecelakaan terjadi karena pengendara mengabaikan rambu-rambu dan tidak mematuhi aturan. Kami mengimbau pengguna jalan untuk lebih waspada dan disiplin, terutama saat melintas di jalur tengkorak,” ujar Kharisma, Kamis (20/11/2025).
Iptu Kharisma menambahkan bahwa peningkatan kesadaran masyarakat merupakan kunci dalam menekan angka kecelakaan. Upaya preventif melalui edukasi, teguran presisi, hingga operasi rutin diharapkan dapat meminimalisir resiko kecelakaan dan menyelamatkan lebih banyak nyawa.
“Keselamatan pengendara tetap yang utama. Tidak ada yang lebih penting dari pulang ke rumah dengan selamat,” tegasnya.
Kepala Kantor Jasa Raharja Wilayah Jawa Timur, Tamrin Silalahi membenarkan tren peningkatan drastis kecelakaan tersebut. Ia memaparkan bahwa sejak awal 2024 hingga September 2025, angka kecelakaan di jalur rawan di Sidoarjo mengalami peningkatan tajam, baik untuk korban meninggal dunia maupun korban luka-luka.
“Jika tahun lalu hanya dua orang yang meninggal, maka pada 2025 ini sudah delapan orang. Korban luka juga naik signifikan, dari sembilan menjadi 135 orang. Ada kenaikan sekitar 1.400 persen,” jelas Tamrin.
Tamrin juga menyebutkan bahwa tingginya angka kecelakaan turut berdampak pada peningkatan biaya penanganan santunan kecelakaan. Pada 2024, pihaknya mengeluarkan sedikitnya Rp 600 miliar untuk pembayaran santunan akibat kecelakaan lalu lintas di Jawa Timur.
“Rata-rata ada 15 orang meninggal dunia per hari, dan 70 persen di antaranya adalah tulang punggung keluarga,” tandasnya.
Dalam upaya menekan risiko kecelakaan, Jasa Raharja bersama Satlantas Polresta Sidoarjo melakukan sejumlah langkah strategis. Di antaranya sosialisasi ke aparatur kecamatan dan desa di sekitar titik blindspot, pemasangan spanduk imbauan keselamatan, hingga kampanye intensifikasi keselamatan transportasi di jalur rawan seperti Raya Balongbendo, Sidoarjo. (rif)












