Sidoarjo – Ajang legendaris Gerak Jalan Mojokerto-Surabaya (GMS) kembali digelar tahun ini. Kegiatan gerak jalan menempuh jarak 55 kilometer ini akan dilaksanakan pada 15 November 2025, dengan rute dari Kota Mojokerto menuju Tugu Pahlawan Surabaya.
Rute GMS yang biasanya melewati wilayah Kecamatan taman, untuk tahun ini dialihkan melewati wilayah driyorejo. Dari bypass krian berbelok kearah legundi, krikilan driyorejo bambe, warugunung, karangpilang dst. Hal ini dikarenakan adanya proyek pelebaran jembatan di jalan raya trosobo yang tidak memungkinkan untuk dilewati peserta gms.
Hadi Wawan Guntoro, Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Kadispora) Jawa Timur (Jatim), mengatakan antusiasme masyarakat terhadap GMS selalu tinggi setiap tahun.
“GMS ini sudah menjadi agenda rutin. Sejak Agustus dan September sudah banyak masyarakat yang menanyakan apakah GMS diadakan atau tidak,” ujar Hadi Wawan jumat (14/11/3025).
Pendaftaran GMS 2025 resmi dibuka secara online mulai Kamis (30/10/2025) pukul 16.15 WIB melalui laman gms2025.id. Sementara itu, pendaftaran offline akan berlangsung pada 8-14 November 2025.
Tahun ini, GMS mengusung tema besar “Perjalanan Waktu Menuju Gerbang Baru Nusantara”, yang melambangkan semangat lintas generasi untuk menelusuri sejarah, merayakan perjuangan, dan menatap masa depan Jatim sebagai pusat kemajuan bangsa.
“Gerak Jalan Mojokerto–Surabaya bukan sekadar langkah kaki, tetapi perjalanan waktu yang menelusuri jejak kejayaan Majapahit, menghidupkan kembali semangat perjuangan kemerdekaan, dan menatap masa depan Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara,” tutur Kadispora.
Menurut Hadi Wawan, GMS 2025 menghadirkan sejumlah inovasi baru. Salah satunya, rute sepanjang 55 km kini dibagi menjadi lima zona tematik, yaitu Era Mojopahitan, Pra-Kemerdekaan, Episentrum Kemerdekaan, Pasca-Kemerdekaan, dan Gerbang Baru Nusantara.
Kelima zona tersebut dirancang menghadirkan pengalaman multi-sensori yang memadukan unsur sejarah, budaya, dan teknologi.
Selain itu, panitia juga menerapkan GPS tracking untuk memantau peserta secara real time. Sistem penilaian kekompakan regu pun kini menggunakan analisis video berbasis kecerdasan buatan (AI), agar hasil penjurian lebih objektif dan transparan. (rif)












