Sumenep, I-Todays.com – Percikan api menyala terang di sudut bengkel kerja Lapas Arjasa. Suara gesekan besi berpadu dengan dengung mesin las, memecah kesunyian pagi. Di balik tembok tinggi dan pintu besi berlapis pengaman, sejumlah Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) tampak fokus, tangan mereka mantap mengarahkan elektroda, menyatukan potongan logam menjadi rangka yang kokoh.
Tak ada yang dikerjakan setengah hati. Helm pelindung terpasang rapi, sarung tangan tebal membungkus jemari, dan tatapan mata tertuju pada garis sambungan yang harus presisi. Setiap percikan api bukan sekadar hasil reaksi panas, melainkan simbol proses pembelajaran—tentang ketelitian, kesabaran, dan tanggung jawab.
Di bawah pengawasan petugas sekaligus instruktur teknis, para WBP mempraktikkan teknik pengelasan untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur internal lapas. Pagar pembatas, rangka kanopi, hingga perbaikan fasilitas menjadi proyek nyata yang mereka tangani. Ini bukan sekadar latihan simulatif, melainkan pekerjaan riil dengan standar kualitas yang harus dipenuhi.
Kepala Lapas kelas III Arjasa
Ristanto Rachmad Hidayat menuturkan program pembinaan kemandirian yang dijalankan Lapas Arjasa memang dirancang agar warga binaan memiliki keterampilan aplikatif.
Pengelasan dipilih bukan tanpa alasan. Selain memiliki peluang pasar luas di sektor konstruksi dan industri kecil, keahlian ini juga relatif fleksibel untuk dikembangkan menjadi usaha mandiri.
“Setiap hasil kerja harus kuat dan rapi. Kalau sambungannya tidak presisi, harus diulang,” tutur Ristanto, Kamis (26/2/26).
Ketegasan itu justru menjadi fondasi pembelajaran. Para WBP belajar bahwa kualitas adalah harga diri sebuah karya.
Menurut Ristanto, bagi para peserta, kegiatan ini menghadirkan pengalaman yang berbeda. Ada kebanggaan tersendiri saat melihat rangka besi berdiri kokoh dari tangan mereka sendiri. Setiap proyek yang selesai menghadirkan rasa percaya diri baru, bahwa mereka mampu menghasilkan sesuatu yang berguna.
“Ini lebih dari sekadar keterampilan teknis, bengkel las di dalam lapas bisa menjadi ruang transformasi. Di sini disiplin dibentuk, mental kerja ditempa, dan tanggung jawab diasah. Mereka belajar bekerja sesuai prosedur, mematuhi standar keselamatan, serta menyelesaikan tugas tepat waktu,” katanya.
Ia menegaskan bahwa program ini juga memberi gambaran nyata tentang dunia kerja di luar tembok pembinaan. Dengan pengalaman praktik langsung, para WBP memiliki bekal yang relevan dengan kebutuhan industri saat ini. Harapannya, ketika masa pidana usai, mereka tidak kembali dengan tangan kosong, melainkan dengan kompetensi yang bisa menjadi pintu rezeki.
“Pihak Lapas Arjasa berkomitmen menjadikan pembinaan kemandirian sebagai prioritas. Melalui sinergi antara petugas dan semangat belajar warga binaan, lembaga ini berupaya melahirkan individu yang siap bersaing dan berdikari,” tegas Ristanto.
Percikan api di bengkel itu mungkin hanya berlangsung beberapa detik. Namun maknanya jauh lebih panjang. Di setiap sambungan las yang merekat kuat, tersimpan cerita tentang kesempatan kedua, tentang harapan yang dirajut perlahan, menyatu sekuat baja yang mereka tempa sendiri.
(Redaksi)












