Surabaya,I- Todays.com – Transformasi kesenian yang selama ini digaungkan Pemerintah Kota Surabaya terancam kehilangan legitimasi dari kalangan seniman dan budayawan. Hal itu mencuat dalam rapat konsolidasi yang digelar di Sekretariat Dewan Kesenian Surabaya (DKS), Kamis (7/5/2026) malam.
Sekitar 150 seniman dan budayawan hadir memberikan dukungan kepada DKS yang sebelumnya disebut mengalami pengosongan paksa oleh Pemerintah Kota Surabaya dengan dalih transformasi kesenian. Dalam forum tersebut, para peserta sepakat menyiapkan aksi protes secara bergelombang terhadap kebijakan Wali Kota Surabaya.
“Rencananya di hari Sabtu (9/05/2026) dan Minggu (10/05/2026) nanti, akan ada pagelaran budaya dan mimbar bebas di depan Sekretariat DKS Balai Pemuda. Teman-teman seniman akan menampilkan ekspresi protesnya kepada Wali Kota Surabaya dalam bentuk karya,” ujar Ketua DKS, Chrisman Hadi.
Ia menambahkan, aksi protes akan berlanjut pada Senin (11/05/2026) dengan agenda long march dan pawai budaya menuju Balai Kota Surabaya.
Menurut Chrisman, dukungan terhadap gerakan tersebut juga datang dari berbagai elemen masyarakat sipil. Beberapa organisasi yang disebut turut mendukung antara lain GMNI Surabaya, Aktivis Promeg96, serta LBH Surabaya.
Selain aksi massa, DKS juga menyiapkan langkah hukum terkait polemik pengosongan sekretariat mereka di kawasan Balai Pemuda Surabaya.
“DKS saat ini sudah resmi didampingi oleh LBH Surabaya dan teman-teman pengacara lainnya yang sedang mempersiapkan upaya hukum terhadap Pemkot Surabaya,” tambah Chrisman Hadi.
Sementara itu, seniman Surabaya, Taufiq Monyong, memastikan bahwa aksi protes terhadap kebijakan Pemerintah Kota Surabaya tidak akan berhenti dalam waktu singkat.
“Kami sudah sepakati dengan teman-teman lainnya semalam, perlawanan dan aksi protes terhadap pengosongan DKS akan dibuat panjang. Jika perlu tiap minggu kita akan lakukan aksi long march. Semalam timeline aksi sudah disusun,” ujarnya.
Monyong juga menilai transformasi kesenian yang digaungkan Pemkot Surabaya akan kehilangan legitimasi apabila tidak melibatkan dan mendapat dukungan para seniman serta budayawan.
“Transformasi Kesenian itu hanya alibi Pemkot untuk mengusir DKS dari Balai Pemuda. Transformasi Kesenian tanpa dukungan para seniman itu jelas merupakan proyek politik Pemkot Surabaya. Biar masyarakat yang menilai,” tegasnya.
(Redaksi: Dv)












