Surabaua, I-todays.com – Surabaya tak pernah benar-benar tidur. Saat siang mulai redup dan jalanan dipenuhi cahaya lampu kendaraan, kota ini perlahan berubah wajah. Dari hiruk-pikuk aktivitas kerja, Surabaya berganti menjadi panggung malam yang menawarkan hiburan, kesenangan, dan pelarian bagi sebagian orang.
Dalam dua tahun terakhir, geliat tempat hiburan malam di Surabaya meningkat signifikan. Tak hanya rumah karaoke yang semakin menjamur, tetapi juga tempat SPA dan massage yang tumbuh bak jamur di musim hujan.
Di berbagai sudut kota, papan nama menyala terang, pintu kaca berkilau, dan spanduk promosi terpampang seolah memanggil siapa saja yang lelah dengan rutinitas.
Di balik itu semua, dunia malam menghadirkan satu hal yang nyaris selalu menjadi “menu utama”: perempuan.
Di rumah karaoke, mereka dikenal sebagai Ladies Companion (LC). Di tempat SPA dan massage, mereka dipanggil terapis. Sebutan berbeda, namun peran mereka hampir serupa: menemani, melayani, dan menjadi bagian dari kenikmatan yang dicari para pelanggan.
Di sejumlah tempat karaoke, hiburan bukan hanya soal lagu. Ruangan privat, suara musik yang memekakkan telinga, minuman yang terus mengalir, dan gelak tawa yang dibuat-buat menjadi paket lengkap.
Seorang LC biasanya duduk menemani tamu. Menyanyi, menuang minuman, tertawa pada lelucon yang sama, atau sekadar menjadi pendengar bagi pelanggan yang ingin merasa dihargai. Banyak pengunjung datang bukan semata ingin bernyanyi, tetapi ingin ditemani.
Sementara di tempat SPA dan massage, suasananya berbeda namun tujuannya serupa: relaksasi dan kepuasan.
Aroma terapi memenuhi ruangan, lampu dibuat redup, musik dipelankan. Terapis memijat tubuh pelanggan dengan tangan terlatih. Sebagian tempat menawarkan layanan standar, tetapi tak sedikit pula yang dicurigai menyimpan layanan “tambahan” di balik pintu tertutup.
Di sinilah batas antara hiburan dan eksploitasi menjadi kabur.
Bagi sebagian orang, dunia malam adalah tempat melepas penat. Namun bagi perempuan yang bekerja di dalamnya, dunia malam sering kali bukan pilihan hidup yang nyaman, melainkan jalan yang ditempuh karena keadaan.
(Redaksi)












