JEMBER, I- Todays.com – Koordinator MAKI Jawa Timur, Heru Satriyo, mendorong percepatan realisasi program “Sumpah Kopi Indonesia” sebagai langkah strategis memperkuat identitas kopi lokal asal Kabupaten Jember agar mampu bersaing di tingkat nasional hingga internasional.
Pernyataan tersebut disampaikan Heru Satriyo saat menanggapi perkembangan festival dan gerakan penguatan industri kopi lokal di Jember, Jumat (15/5/2026). Menurutnya, gagasan Sumpah Kopi Indonesia sejatinya sudah pernah disampaikan oleh Bupati Jember pada penyelenggaraan pameran volume kedua sebelumnya.
Kini, pihaknya berharap konsep tersebut segera diwujudkan secara konkret melalui tahapan identifikasi menyeluruh terhadap seluruh pelaku usaha kopi di wilayah Jember.
“Dalam tahun ke depan ini, karena sudah tiga tahun berjalan sampai tahap sekarang, sebenarnya Sumpah Kopi ini sudah pernah disampaikan oleh Bupati Jember pada pameran volume kedua. Sekarang kami dorong agar sebelum Sumpah Kopi Indonesia diluncurkan, harus dilakukan identifikasi terlebih dahulu,” ujar Heru Satriyo.
Ia menjelaskan, proses identifikasi tersebut mencakup pendataan pengusaha kopi lokal, merek kopi yang diproduksi, hingga metode pengolahan atau treatment yang digunakan masing-masing pelaku usaha.
Langkah itu dinilai penting agar ekosistem kopi di Jember memiliki database dan identitas yang jelas sebelum diperkenalkan lebih luas ke pasar nasional maupun internasional.
Menurut Heru, kekuatan kopi Jember tidak hanya terletak pada hasil perkebunannya, tetapi juga pada karakter rasa serta proses pengolahan khas yang dimiliki tiap produsen kopi lokal.
Karena itu, seluruh potensi tersebut perlu dipetakan dan disatukan dalam satu identitas besar sebagai simbol kebangkitan kopi daerah.
“Nanti pengusaha-pengusaha kopi yang ada di wilayah Jember didata, merek kopinya apa saja, kemudian treatment-nya seperti apa. Setelah semua itu terpenuhi, saya yakin Sumpah Kopi Indonesia akan dilaunching oleh Bupati Jember,” tegasnya.
Heru menilai konsep tersebut memiliki kemiripan dengan program “Republik Kopi” yang berkembang di Bondowoso. Menurutnya, pendekatan yang dilakukan hampir sama, yakni membangun identitas kolektif terhadap produk kopi daerah agar memiliki nilai jual dan daya saing lebih tinggi.
“Sama seperti Republik Kopi di Bondowoso, aplikasinya hampir sama seperti itu. Artinya ketika sudah ada ID dan identitas Sumpah Kopi Indonesia, inilah yang akan kita eksplorasi ke luar provinsi maupun ke luar negeri,” lanjutnya.
Ia optimistis Jember memiliki peluang besar menjadi salah satu pusat pengembangan kopi unggulan Indonesia. Selain dikenal sebagai daerah penghasil tembakau, Jember juga memiliki potensi perkebunan kopi dengan kualitas yang mampu bersaing di pasar ekspor.
Melalui penguatan identitas kopi lokal tersebut, Heru berharap pelaku UMKM dan petani kopi dapat memperoleh manfaat ekonomi yang lebih luas, mulai dari peningkatan penjualan produk hingga penguatan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif daerah.
Program Sumpah Kopi Indonesia juga dinilai dapat menjadi momentum menyatukan seluruh pelaku industri kopi dalam satu visi besar membangun kopi Jember sebagai kebanggaan daerah sekaligus komoditas unggulan nasional.
Dengan dukungan pemerintah daerah, komunitas kopi, pelaku UMKM, hingga organisasi masyarakat, konsep tersebut diyakini mampu menjadi gerakan ekonomi berbasis potensi lokal yang berkelanjutan.
Di sisi lain, festival kopi dan UMKM yang rutin digelar di Jember juga dianggap menjadi wadah efektif memperkenalkan produk-produk lokal kepada masyarakat luas serta membuka ruang kolaborasi antara petani, roaster, pemilik kedai kopi, hingga investor.
Heru Satriyo berharap proses identifikasi dapat segera direalisasikan sehingga peluncuran Sumpah Kopi Indonesia tidak hanya menjadi simbol seremonial, tetapi benar-benar menjadi fondasi pengembangan industri kopi Jember menuju pasar global.
(Redaksi)












