SURABAYA, I- Todays.com – Pemandangan berbeda terlihat di kawasan Gedung Balai Pemuda Surabaya, Selasa (19/5/2026). Papan petunjuk arah yang berada di depan ruang Tourism Information Center (TIC) kini tampak berkurang. Dari sebelumnya terdiri atas empat bilah papan penunjuk, kini hanya tersisa tiga papan saja.
Yang menjadi sorotan, papan petunjuk arah menuju Kantor Sekretariat Dewan Kesenian Surabaya (DKS) diketahui sudah tidak lagi berada di lokasi. Sementara papan petunjuk lain menuju Balai Pemuda, Gedung Merah Putih, Teater Balai Pemuda, Rumah Bahasa, dan Tourism Information Center masih tetap terpasang.
Pengurus Dewan Kesenian Surabaya, Mahmuny Paksi, mengaku baru menyadari hilangnya papan petunjuk arah tersebut saat melintas di area depan kantor Tourism Information Center.
Menurutnya, papan penunjuk arah menuju kantor sekretariat DKS sudah terpasang sejak sekitar tahun 2019.
“Papan petunjuk ke arah kantor DKS itu dulu dipasang sekitar tahun 2019-an, kemarin saya lewat sana sudah tidak ada. Nggak tahu apakah dicopot atau memang hilang,” ujar Paksi.
Hilangnya papan petunjuk tersebut memunculkan pertanyaan dari kalangan pengurus DKS terkait keberadaan dan eksistensi lembaga kesenian yang telah berdiri sejak puluhan tahun lalu di Kota Surabaya.
Ketua Dewan Kesenian Surabaya, Chrisman Hadi, mengaku heran dengan hilangnya papan petunjuk arah tersebut. Bahkan, ia menilai kondisi itu seolah menjadi bagian dari upaya menghapus eksistensi Dewan Kesenian Surabaya dari Balai Pemuda.
“Seniat itu kah Pemkot Surabaya menghapus sejarah Dewan Kesenian Surabaya. Setelah kantor kami dikosongkan, dipasangi CCTV, sampai papan petunjuk arah yang ada tulisan Kantor DKS sekarang juga dihilangkan,” ujar Chrisman Hadi.
Ia menegaskan bahwa Dewan Kesenian Surabaya merupakan bagian penting dari sejarah perkembangan seni dan budaya di Kota Pahlawan.
Menurut Chrisman, DKS telah menjadi wadah bagi para seniman Surabaya sejak tahun 1971 dan keberadaannya diwariskan lintas generasi hingga saat ini.
“DKS ini warisan sejarah, diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya sejak tahun 1971. Begitu mudahnya Pemkot mau menghapuskan rekam jejak sejarah ini,” ungkapnya.
Hingga saat ini belum ada penjelasan resmi dari Pemerintah Kota Surabaya terkait hilangnya papan petunjuk arah menuju Kantor Sekretariat Dewan Kesenian Surabaya tersebut.
Peristiwa ini pun memunculkan perhatian dari kalangan seniman dan pegiat budaya yang menilai keberadaan DKS merupakan bagian penting dari identitas sejarah kesenian Kota Surabaya.
(Redaksi)












