SURABAYA, I- Yodays.com – Proyek pembangunan saluran air menggunakan U-Ditch di Jalan Bulek Rukem Gang 3C, Kelurahan Wonokusumo, Kecamatan Semampir, Surabaya, menuai sorotan tajam dari warga. Proyek yang bersumber dari APBD Kota Surabaya Tahun Anggaran 2026 itu diduga dikerjakan asal-asalan karena sejumlah material beton dalam kondisi retak dan pecah tetap dipasang di lokasi pekerjaan.
Berdasarkan data Sistem INAPROC, proyek pembangunan U-Ditch ukuran 40×60 lengkap dengan cover dua sisi dan paving lebar 3 meter tersebut memiliki nilai pagu anggaran sebesar Rp298.308.442 dengan kode RUP 43141848.
Pantauan awak media di lapangan menemukan beberapa unit U-Ditch mengalami kerusakan fisik sebelum dipasang. Namun material yang retak itu tetap digunakan oleh pekerja untuk pembangunan saluran air. Kondisi tersebut memicu kemarahan warga karena proyek yang menggunakan uang rakyat dinilai tidak mengutamakan kualitas pekerjaan dan ketahanan konstruksi.
Awak media menilai pelaksana proyek terkesan memaksakan pekerjaan tanpa memperhatikan mutu material. Mereka khawatir saluran yang dibangun tidak akan bertahan lama dan berpotensi cepat rusak meski anggaran yang digunakan mencapai ratusan juta rupiah.
Selain menyoroti kualitas material,keterlibatan tenaga kerja lokal dalam proyek tersebut. Awak media menyebut hampir seluruh pekerja berasal dari luar Kota Surabaya. Padahal proyek lingkungan seperti pembangunan drainase di kawasan permukiman seharusnya mampu memberdayakan masyarakat sekitar dan membuka peluang kerja bagi warga setempat.
Awak media menyoroti seorang pengurus wakil RT yang juga dikenal sebagai aktivis LSM dan jurnalis, Tohir, memberikan keterangan kepada media. Dalam keterangannya, Tohir mengaku dirinya diminta langsung oleh pihak Kelurahan Wonokusumo untuk membantu menjelaskan kondisi proyek kepada awak media yang mempertanyakan kualitas pekerjaan.
“Saya diminta Pak Lurah untuk menjelaskan kondisi sebenarnya karena beliau kasihan melihat situasi yang berkembang di masyarakat,” ujar Tohir saat dihubungi melalui sambungan telepon.
Namun dalam penjelasannya, Tohir justru mengungkap dugaan persoalan baru terkait aliran anggaran proyek. Ia menyebut pihak pemborong mengaku mengalami kerugian besar akibat adanya pemotongan dana yang tidak jelas peruntukannya.
“Anggaran yang turun sekitar Rp285 juta. Tapi masih ada potongan lagi sebesar Rp52 juta. Kami tidak tahu uang itu dipotong untuk apa dan mengalir ke siapa. Pemborong sampai menangis karena merasa rugi besar,” ungkap wakil RT.
Pernyataan tersebut memunculkan dugaan adanya aliran dana misterius di balik proyek pembangunan saluran air tersebut.
(Jerry)












