SIDOARJO, i- Todays.com – Sidoarjo mulai menunjukkan arah baru dalam pengelolaan aset desa, khususnya lapangan sepak bola, yang kini tak hanya berfungsi sebagai sarana olahraga, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi lokal dan potensi sport tourism.
Seiring kebijakan pengalokasian anggaran langsung ke desa, berbagai lapangan yang sebelumnya kurang terawat kini bertransformasi menjadi fasilitas representatif. Tak hanya diperbaiki secara fisik, pengelolaannya pun dilakukan secara profesional sehingga mampu menghasilkan pendapatan melalui sistem penyewaan.
Geliat ini menjadi pembahasan utama dalam forum komunikasi bertajuk Kopilaborasi dengan tema Sport Tourism: Branding Lapangan Bola Sebagai Ikon Ekonomi Desa. Forum ini mempertemukan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo, DPRD, Forum Wartawan Sidoarjo (Forwas), hingga para pemuda dan pengelola lapangan untuk merumuskan strategi pengembangan.
Ketua Forwas Sidoarjo, M. Taufik, mengungkapkan bahwa dalam lima tahun terakhir, Lapangan Desa Keloposepuluh mengalami perkembangan signifikan. Dari kondisi yang sebelumnya kurang layak, kini lapangan tersebut mampu menghasilkan pendapatan, terutama dari penyewaan di malam hari.
Menurutnya, keberhasilan tersebut tidak lepas dari pengelolaan berbasis Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), sehingga seluruh pemasukan dapat kembali dimanfaatkan untuk pembangunan dan kegiatan masyarakat desa.
“Pengelolaan yang dimasukkan ke unit BUMDes membuat pendapatan bisa dikelola secara optimal untuk kepentingan desa,” ujarnya.
Selain Keloposepuluh, Lapangan Bangsri di Kecamatan Sukodono juga menjadi contoh sukses. Dibangun dari dana desa, lapangan ini terbuka untuk umum dan hasil penyewaannya kembali digunakan untuk kesejahteraan masyarakat setempat.
Di sisi lain, Taufik menyoroti potensi pembinaan atlet lokal yang masih perlu ditingkatkan. Meski hampir setiap desa memiliki Sekolah Sepak Bola (SSB), keterbatasan fasilitas membuat sebagian harus berbagi atau menyewa lapangan.
Kondisi ini justru membuka peluang kolaborasi antardesa, baik dalam penggunaan fasilitas maupun penyelenggaraan kompetisi yang lebih terstruktur.
Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Sidoarjo, Eri Sudewo, menyatakan komitmennya dalam mendukung pengembangan ini melalui penyediaan jaringan internet di area lapangan desa. Langkah ini dinilai mampu meningkatkan nilai jual sekaligus menjadikan lapangan sebagai pusat aktivitas masyarakat.
“Lapangan desa ke depan diharapkan menjadi epicenter kegiatan positif yang berdampak langsung pada kemajuan ekonomi dan sosial masyarakat,” ujarnya.
Ia juga menambahkan akan berkoordinasi dengan Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata guna menindaklanjuti aspirasi terkait pembinaan atlet muda di tingkat desa.
Sementara itu, Sekretaris Komisi B DPRD Sidoarjo, Sullamul Hadi Nurmawan, menegaskan dukungan legislatif terhadap pengembangan ekonomi desa berbasis olahraga. Ia menilai kualitas lapangan di Sidoarjo memiliki keunggulan dibanding daerah lain.
Menurutnya, sinergi antara pemerintah desa, kabupaten, dan masyarakat sangat penting untuk menjaga kualitas fasilitas sekaligus membangun ekosistem sepak bola yang berkelanjutan.
Wawan juga mendorong para pemuda dan pengelola lapangan untuk aktif melakukan branding, agar lapangan desa tidak hanya dikenal secara lokal tetapi juga mampu menarik minat dari luar daerah.
“Branding lapangan desa bukan hanya soal olahraga, tapi juga strategi untuk mem-boost ekonomi desa melalui efek berganda,” tegasnya.
Dengan kolaborasi berbagai pihak, lapangan desa di Sidoarjo kini tak lagi sekadar ruang bermain, melainkan telah bertransformasi menjadi simbol kebangkitan ekonomi desa berbasis olahraga dan pariwisata.
(Redaksi)












